Puluhan sepeda motor berjejer memenuhi sebagian badan jalan ketika saya lewat. Begitu juga di Sekolah Dasar berikutnya yang saya lewati, lalu Taman Kanak-kanak. Semua sekolah tampak bergairah saat saya lewati pagi tadi. Ada banyak antusiasme disana, ada berjuta harapan, berjuta impian, di depan jutaan gerbang sekolah. Hari pertama anak-anak mereka sekolah. Mungkin anak pertamanya, atau mungkin anak yang kesekian. Tapi tetap, hari ini sejuta harapan timbul, bahkan doa, agar anak mereka, anak yang mereka antar menjalani hari pertamanya di sekolah, bisa jadi anak yang pandai, yang bisa dibanggakan. Belum tiba giliran saya memang. Tapi semangat dan harapan itu sudah ada pada saya. Tak sabar rasanya untuk mengantar dan menunggu anak saya menjalani hari pertama sekolah. Tak sabar untuk merasakan bangga ketika melihatnya tumbuh pintar. Empat tahun lagi mungkin.
BIC Goes To Dieng
13 07 2009Hari itu datang juga. Akhirnya…
Cuti hari pertama. Malam nanti, liburan akan dimulai, dari KM 39 Cikarang, menuju Wonosobo. Liburan jarak jauh pertama kami bersama Kayana yang baru berusia delapan bulan, dengan ibunya tentu saja. Semua sudah kami siapkan, makanan kecil, minuman segar, Marlboro merah untuk saya, dan Car Seat untuk Kay.
Entah kenapa hari itu berjalan cepat sekali, tak terasa. Niat tidur siang untuk menyimpan tenaga malam harinya, gagal total. Menuju meeting point di Cikarang, saya mulai membayangkan, iring-iringan panjang melaju pelan membelah jalan, menuju tujuan.
Lima belas menit sebelum tanggal berganti, kami berangkat. Sebagai pendatang baru, saya berada di urutan paling depan, dengan nomor lambung B2, di belakang Road Captain, Om Aryo dan Grup Leader sekaligus Ketupelak, Pak Satrio. Di belakang saya menyusul Pak Helmi Burhan, Om Rudi, dan terakhir di grup Bravo, Om Dizki.
Bayangan saya tentang iring-iringan panjang yang melaju pelan langsung buyar sesaat setelah kami melaju di tol. Tak ada pemanasan, tak ada ba-bi-bu, semua rombongan langsung “ditarik”. Jelas saja, saya kaget. Pun demikian kebo saya. Maklum, selama ini kebo saya tak pernah ditunggangi dengan memecut keras-keras pantatnya. Malam itu, ‘dia’ berjuang keras menyesuaikan diri, mengikuti instruksi dari Bravo Leader yang terus menerus teriak ‘rapat! rapat!’, seperti kenek Metromini yang sedang mengejar setoran. Malam itu, ‘dia’ menerima beberapa, puluhan mungkin, pecutan di pantatnya, untuk melaju kencang mengikuti Leadernya.
Sudah lewat jam makan siang ketika kami memasuki kota Purwokerto. Dua mangkuk Sroto yang lezat (atau karena lapar?) habis saya santap. Tapi Kay mulai tak betah, mungkin karena mulai letih dan tak bisa bergerak leluasa di dalam mobil. Saya pun mulai tak tenang, karena Kay mulai mengeluarkan semua yang dia makan. Pasti masuk angin, pikir kami.
Kay langsung tertidur lelap setelah mandi air hangat dan makan sore di hotel. Sementara, kami segera menuju warung mie ongklok dekat hotel.

Luar biasa segarnya pagi hari di Wonosobo. Apalagi setelah menyantap bubur ayam dan omelette. Kay pun sudah terlihat segar dan ceria kembali. Kami siap meneruskan perjalanan. Tujuan pertama, teater Dieng. Setelah itu, makan siang dan istirahat di Tambi, areal perkebunan teh kalau saya tak salah. Sungguh makan siang yang nikmat.
Yang paling mendebarkan selama touring berlangsung tentu saja menjalani rute Kampung Kopi Banaran-Semarang. Bagaimana tidak…? Kali ini iring-iringan benar-benar harus rapat. Sekedar rapat saja tentu tidak cukup untuk meliuk-liuk ditengah kemacetan dengan kawalan PATWAL, mengingat banyaknya motor yang dengan santainya bisa memotong di sela rombongan. Hebatnya, rombongan berhasil masuk Hotel Santika setelah mengelilingi kota Semarang tanpa terputus, padahal jarak tempuhnya cukup jauh. BRAVO BIC…!
Comments : Leave a Comment »
Categories : from me...
Penanda
2 04 2009Hari pasti terus berganti, demikian juga tanggal, dan bulan. Senin pasti akan terganti dengan Senin, demikian pula September yang diganti September yang lain. Adakah yang perlu dirayakan ketika sesuatu digantikan oleh sesuatu yang lain, yang hakikatnya adalah sama? Semua hanya berfungsi sebagai penanda, tidak lebih. Bahwa waktu terus bergulir, sesuatu yang terus tumbuh, yang kecil menjadi besar, dan yang muda menjadi tua.
Sama seperti Kamboja kuning di halaman rumah. Daun yang gugur akan segera terganti dengan daun yang lain, yang pada waktunya akan gugur juga. Bunga kuningnya merekah hanya untuk mati, terganti dengan bunga yang baru. Dan, tak ada yang pernah dirayakan oleh mereka, pohon kamboja, daun, dan bunganya. Bahkan oleh kumbang sebagai penikmatnya sekalipun.
Semua hanya penanda, bahwa kehidupan akan terus berjalan, dirayakan atau tidak.
Comments : Leave a Comment »
Categories : from me...
Lebay…
1 04 2009Saya tak tahu, kenapa tiba-tiba saya ingin menulis tentang kata ini, ‘lebay’. Mungkin karena puja-puji yang dialamatkan ke saya di rapat tadi.
Saya juga tak tahu, sejak kapan kata yang dalam bahasa aslinya sama dengan ‘lebih’ dengan awalan ‘ber’ dan akhiran ‘an’ ini jadi populer disini. Seperti bahasa gaul lain, kata ini jadi lebih cocok digunakan untuk menggambarkan sesuatu yang berlebihan, lebih dari semestinya. Lebih cocok daripada menggunakan bahasa aslinya, ‘berlebihan’, yang mungkin jadi terkesan gak keren, terlalu resmi, dan kaku.
Eniwei, apapun yang akan digunakan, ‘lebay’ atau ‘berlebihan’ artinya toh tetap sama. Jadi, biar gak dibilang ketinggalan jaman dan gak gaul, saya gunakan saja kata ‘lebay’ untuk sementara waktu, sampai musimnya lewat.
Kembali ke puja-puji yang saya anggap lebay tadi. Bukan bermaksud tidak tahu diri, atau malah di bilang lebay, tapi sungguh, saya sangat tidak nyaman mendapatkan pujian yang lebay dengan kata-kata penguatnya keluar dalam satu kalimat, seperti spektakuler, luar biasa, dan sebagainya. Tidak sepantasnya deretan kata itu muncul, karena saya merasa (entah yang lain), terlalu lebay. Ah, saya jadi ikut-ikutan lebay deh, sudah menggunakan istilah lebay kok masih di tambahi terlalu. Padahal kan lebay itu sebenarnya sudah terlalu, tanpa perlu ditambahi terlalu lagi. Sudah lah, daripada saya bertambah lebay, atau dibilang lebay, lebih baik saya sudahi saya tulisan ini. Dasar lebay…!
Comments : Leave a Comment »
Categories : from me...
270309
30 03 2009Terimakasih…Mesin itu berbunyi setelah saya menyodorkan jempol kanan. Belum sepenuhnya masuk ke news room ketika saya mendengar seseorang berbicara kepada seorang lainnya dengan suara cukup keras. Ada camera person senior gak ya…? Gw butuh buat naik heli nih…!
Saya tak bisa mendengar jawaban orang yang diajak bicara, tapi dari gesture nya dia tampak enggan meladeni pertanyaan itu, yang pasti berujung pada penugasan. Mungkin orang itu sudah terlalu letih, karena baru saja bertugas menjaga siaran pagi dari malam sebelumnya.
Tak lama, saya sudah meluncur ke Polda Metro Jaya. Yang saya tahu baru sedikit, itu pun baru pagi hari. Sebuah tanggul jebol, menyebabkan sebuah tsunami kecil di permukiman di bawahnya. Pagi itu korban tewas ‘baru’ belasan orang.
Heli milik Polda sudah siap saat saya tiba. Tak banyak basi-basi, kami naik perlahan, menuju lokasi. Saya masih berpikir ini hanya banjir biasa, yang disebabkan luapan air dari sebuah waduk yang jebol. Sampai akhirnya kami terbang cukup rendah diatasnya. Baru saya sadar, ini bencana besar. Waduk itu lebih tinggi dari permukiman di bawahnya, menyebabkan sebuah jalan yang berda di atas tanggul putus, dan air waduk sedalam 1o meter hampir kering tersedot.
Saya langsung bisa membayangkan betapa panik dan kagetnya orang-orang disana diterjang air sedemikian dahsyatnya di pagi buta. Entah bagaimana kerjanya, mata saya mulai mencari, untuk di rekam sebagai dokumentasi musibah itu. Saya mendapati sebuah bis besar yang terguling di depan kampus, sebuah mobil yang terseret sampai ke kali, rumah-rumah yang hancur, pohon-pohon yang tumbang, dan air yang sudah bercampur lumpur dimana-mana.
Hari itu, semua mata memang tertuju kesana, Situ Gintung, Ciputat, Tangerang, Banten. Semua mulut, semua mata. Semua tivi berlomba menayangkannya menit ke menit, menambahkan daftar nama korban tewas satu persatu, hingga hari ini.
*********
Sudah hampir jam sembilan malam ketika saya tiba di sebuah tempat beberapa kilometer dari lokasi bencana pagi itu. Dengan pakaian yang sama. Bedanya, yang saya lihat di depan saya malam itu sangat bertolak belakang dengan yang saya rekam pagi tadi. Kerumunan fans yang datang hanya untuk sekedar melihat idolanya, selebriti-selebriti tanah air dengan busana-busana mahalnya, kamera-kamera infotaiment, karpet merah, pejabat negara, makanan dan minuman yang berlimpah.
Malam itu sebuah pesta di gelar, di hari yang sama ketika sebuah musibah besar terjadi beberapa kilometer darisana. Entah apakah mereka bisa merasakan apa yang para korban rasakan juga.
Comments : Leave a Comment »
Categories : from me...
Berkah Valentine Day
14 02 2009Tahun ini, di hari yang banyak orang bilang hari kasih sayang atawa Valentine Day, akhirnya, untuk pertama kalinya saya merasakan juga manfaat hari Valentine . Berawal dari kebiasaan membaca koran pagi, yang hari ini saya baca saat hari sudah siang. Seperti biasa, halaman perhalaman saya baca, termasuk lowongan pekerjaan, iklan baris jual beli mobil, sampai iklan-iklan yang hari ini hampir semuanya berwarna pink.
Sampai akhirnya tiba kepada sebuah iklan berukuran seperempat halaman, dengan warna pink pula. Iklan dari sebuah perusahaan leasing yang menjadi partner tetap sebuah produk otomotif. Iklan yang membuat saya sigap mengambil kalkulator, memencet sejumlah angka dan menekan simbol =. Hhmm…benar-benar iklan yang menarik dan membuat saya bergegas, karena penawaran itu hanya berlaku hari ini, spesial di hari valentine, katanya begitu.
Langsung saya sodorkan iklan itu ke bendahara keluarga, mencoba meyakinkan bahwa iklan ini perlu ditindaklanjuti, plus penekanan, kesempatan spesial ini hanya datang di hari ini.
Hanya dalam hitungan menit, kami sampai di sebuah dealer rekanan iklan tadi. Tak banyak yang diurus, hanya tanya beberapa, dan langsung beres. Akhirnya, setelah bertahun-tahun, saya harus mengucapkan terimakasih kepada tanggal 14 Februari.
Comments : Leave a Comment »
Categories : from me...
Penjara
11 02 2009Menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia), pen·ja·ra adalah bangunan tempat mengurung orang hukuman; bui; lembaga pemasyarakatan;
Saya, jelas bukan orang yang sedang mendapat hukuman. Apalagi ada di dalam Lembaga Pemasyarakatan. Hhhm…Coba saya ingat-ingat. Mungkin saya pernah melakukan kesalahan akhir-akhir ini. Tapi…setahu saya tidak. Pun jika saya mendapat hukuman, harusnya saya diberitahu, berapa lama saya dapat hukuman dan karena apa.
Saya, entah mengapa, menjadi sangat terpenjara saat ini. Kaki saya terikat. Tak bisa melangkah jauh.
Comments : Leave a Comment »
Categories : from me...
Kisah Kopral Joni
11 02 2009Pagi itu, Kopral Joni datang ke satuannya bertugas seperti biasa. Tidak telat, tapi juga tidak terlalu dini. Kesatuan tempatnya bertugas, sebut saja Batalyon Perkutut, memang sedang giat-giatnya latihan perang. Maklum, kondisi negara memang tidak stabil, banyak ancaman dari negeri-negeri tetangga yang mengancam kedaulatan.
Layaknya latihan perang, idealnya tiap prajurit dibekali sebuah senjata, entah meriam, atau senapan laras panjang. Tapi, apa mau dikata, pagi itu, Kopral Joni tak kebagian jatah senapannya. Memang sudah menjadi rahasia umum, Batalyon Perkutut memiliki keterbatasan dalam banyak hal, terutama fasilitas penunjang. Untungnya, keterbatasan ini tidak diketahui negeri tetangga (atau diam-diam mereka tahu?).
Singkat cerita, Kopral Joni berlatih perang tanpa senjata di tangan. Dia hanya bisa ikut-ikutan berlari, bersembunyi di balik semak, dan sesekali tiarap. Jika teman didekatnya sedang menembak, Kopral Joni hanya bisa menirukan suaranya, deer…deer…deer…
Aah…kasihan sekali Kopral Joni. Untung, sekali lagi untung, mereka hanya latihan perang. Apa jadinya kalau Kopral Joni berperang dengan negeri tetangga tanpa senjata di tangan? Apa bedanya dengan tindakan bunuh diri seorang mahasiswi yang frustasi dengan cara melompat dari atap gedung…?
Iih…Amit-amit jabang bayi deh…
Comments : Leave a Comment »
Categories : 1/2 Fiksi
Ada lagi yang mati
28 01 2009Sms itu mengejutkan saya. Isinya, undangan untuk menghadiri 7 harian meninggalnya teman saya, teman kampus saya. Terkejut, karena saya tak mendapat kabar saat dia pergi, karena saat terakhir bertemu, dia tampak sehat-sehat saja, kecuali belum bisa lepas dari ketergantungannya terhadap barang tertentu. Satu lagi teman yang mati. Dalam usia muda. Sebelumnya, di tahun-tahun yang lalu, sudah banyak yang pergi.
Tetangga sebelah kiri kamar kost saya dulu, lebih dulu pergi. Dahulu, di masanya, dia jawara. Hobinya, mabuk dan berkelahi. Semua anak baru pasti tahu namanya, pasti memberi jalan saat berpapasan dengannya. Akhirnya, dia kalah juga, oleh barang setan yang akhirnya memberinya penyakit kronis.
Tetangga sebelah kanan kamar kost saya, juga sudah pergi. Dahulu, saat saya baru belajar memegang kamera, dia sudah menjadi fotografer tulen, memakai kamera keluaran terbaru di zamannya. Dia juga yang selalu men’suplai’ daun lintingan untuk kami semua. Tak pernah putus. Terakhir, kabarnya dia tertangkap tangan di Bali saat mengantarkan ‘paket’. Bukan sembarang paket tentu yang mengantarkannya ke LP Cipinang. Lalu muncul berita lewat milis, dia sudah pergi. Desas desus yang beredar, dia sengaja di ‘dor’ karena tak mau mengungkap jaringannya yang besar.
Mereka, ditambah teman saya naik gunung, teman kantor yang punya jaringan di dunia hitam, dan beberapa lainnya pergi di usia yang tak jauh beda dengan usia saya saat ini. Mereka semua mati muda. Dengan berbagai cerita yang mengikutinya.
Comments : 1 Comment »
Categories : from me...


