Mati

29 05 2008

Siang ini, dia mati. Awalnya saya pikir dia hanya pingsan. Saya tepuk tangannya. Saya buka matanya. Saya tunggu reaksinya. Dia tetap tak bergerak.

Saya diamkan dia rebah beberapa saat, sambil berharap keajaiban itu kembali terjadi. Bukan sekali ini saja dia hampir mati. Dia selalu kembali setelah didiamkan beberapa saat. Sebenarnya, belum terlalu tua usianya. Tapi dari awal dia sudah menjalani hidup dengan penuh cobaan. Jatuh berkali-kali, sesekali sampai terbanting. Pasokan energi nya pun seringkali tidak seperti yang seharusnya didapat.

Kembali saya hampiri dia. Saya tepuk lagi, kali ini pundaknya. Matanya masih terpejam. Tetap tak bergerak. Tak percaya, saya tepuk lagi, dengan cukup keras kali ini. Tetap saja, tak mau bergerak. Sudah saatnya mungkin. Sudah waktunya bagi dia. Sudah 5 jam berlalu sejak dia tak bergerak.

“Dia sudah mati sayang. Benar-benar mati kali ini,” saya sampaikan kabar duka ini lewat telpon kepada istri saya di sana.

“Ya sudah, mungkin memang sudah waktunya,” dengan tenangnya istri saya menjawab, “kamu beli saja yang baru…”





After all…

28 05 2008

Hari ketiga di minggu ini. Baru sekarang punya sedikit waktu luang. 2 hari pertama kembali menjadi anak kuliah, duduk manis mendengarkan seorang pakar berbicara. Sesekali juga ikut interaktif. Dimulai jam 8 pagi, diselingi makan siang dan 2 kali coffe break. Melelahkan…

Kalau boleh memilih, saya lebih senang bekerja daripada mendengarkan seseorang berbicara, walaupun orang tersebut sangat ahli dan pandai. Bukan tak ingin mendengar, apalagi tak ingin belajar. Tapi duduk selama berjam-jam sungguh menyiksa buat saya. Saya lebih senang berkeringat, bersentuhan dengan tanah, 24 jam non stop pun saya senang melakukannya.

Semalam, saya coba menjemput impian. Kali ini di dunia nyata. Sayang, mimpi itu belum sesuai dengan kenyataan. Semalam juga lah, seharusnya saya menyelesaikan pekerjaan yang tertunda. Apa boleh buat, otak ini tidak bisa diajak bekerjasama, apalagi mata.

Pagi tadi, pagi sekali, mata ini saya paksa membuka, untuk menyelesaikan pekerjaan yang terbengkalai. Sayang, otak ini tak bisa di paksa, sekalipun sudah disirami air berkali-kali. “Oke, tak apa. Tapi kita harus selesaikan dalam perjalanan ke bandara ya,” ujar saya kepada saya. Ternyata otak saya benar-benar lelah. Demikian juga dengan mata. Sepanjang perjalanan ke bandara ‘mereka’ tertidur. Sesampainya, giliran perut yang bicara. “Ah, sabar ya…Kita harus segera ke kantor, banyak yang menunggu pekerjaan ini selesai,” ujar saya kepada perut.

Akhirnya, setelah saya paksa otak, mata, dan bernegosiasi dengan perut, selesai sudah. Sekarang, otak ini sudah lebih santai, bibir ini sudah mulai bisa tersenyum, dan mata…bisa lebih terbuka melihat apa saja.


Masih sore di negeri nun jauh di sana. Dia pastinya juga sudah mulai sibuk sekarang. Kawan lama, wajah masa kecilnya saja saya tak ingat. Sapaannya selalu hangat. Entah apakah dulu dia juga memiliki sapaan sehangat sekarang. Saya benar-benar tidak ingat. Maaf…





LION QUEEN

23 05 2008

Singa itu sedang bicara dengan beberapa penghuni hutan lain ketika saya datang. Sikapnya ceria seperti biasa. Penghuni hutan yang lain mulai berbicara kepada saya. Saya diam, beberapa saat. Bahkan saat mereka mulai bertanya. Saya coba membaca suasana.

Merasa akan sia-sia jika diam, akhirnya saya mulai bertanya.
“Ada masalah apa ini, kok sepertinya serius sekali?”

“Gak, saya hanya khawatir” sahut Gajah.

“Kenapa kamu khawatir, terhadap apa?”

“Saya khawatir saya akan disalahkan karena salah satu pohon kita tumbang. Padahal, sebelum ini teman kita juga ada yang membuat pohon tumbang, tapi tak pernah ada yang ditegur oleh Polisi Hutan” jelas Gajah.

“Hhhmmm….mungkin karena itulah Polisi Hutan menegur kamu” saya coba memberikan pandangan.

“Kenapa saya, kenapa yang lain tidak ditegur? Apa saya mau dijadikan kambing hitam?” Gajah bertanya lagi dengan rasa penasaran.

“Jangan berpikir seperti itu…Polisi Hutan mungkin berpikir sudah cukup banyak pohon yang tumbang karena kita. Nah, jika dibiarkan, mereka mungkin khawatir pohon yang tumbang akan semakin banyak. Makanya mereka memberikan teguran, sebagai peringatan kepada kita semua, agar kita menjaga baik-baik pohon kita di hutan ini”

Saat saya memberikan penjelasan kepada Gajah, sekilas saya melihat si Singa, menunggu apakah ia akan berbicara juga sebagai penguasa hutan. Saya terkejut. Raut wajah Singa berubah. Tidak lagi ceria seperti saat saya datang. Bibirnya tertutup rapat. Matanya mendelik menyelidik. Seolah hendak berkata, kenapa kamu bicara seperti itu ke Gajah?

Saat saya mulai berpikir apa yang salah, Tapir, penghuni hutan di desa sebelah melintas. Singa langsung memanggilnya, saya sepertinya tahu sebabnya. Singa berniat pergi dari perbincangan ini dengan cara mencari teman. Betul pikiran saya. Tapir datang, Singa berbasa basi sedikit, lalu pergi.

Saya tak tahu persis sebabnya, yang jelas Singa terlihat tak suka dengan apa yang saya katakan kepada Gajah.
Mata, cara duduk, tindak tanduk dan wajah nya selama saya berbicara jelas menunjukkan itu. Semua penghuni hutan tahu seperti apa si Singa. Wajah Singa ketika sedang marah jelas sangat berbeda ketika Singa sedang baik-baik saja. Setelah Singa pergi, saya juga pergi, toh penghuni hutan lain sudah tidak berniat bicara lebih banyak.





Buyar

23 05 2008

Tiba-tiba ada yang membangunkan saya semalam.
Membangunkan dari mimpi dalam tidur yang panjang.
Membawa saya kembali ke dunia nyata, dengan semua kenyataannya.
Bukan seperti di dunia mimpi, dengan semua mimpi indahnya.

Sederet angka menjadikan semuanya menjadi nyata, membuyarkan semua mimpi saya.

Kecewa…?

Mungkin saya justru harus bersyukur.
Angka-angka tersebut telah membuat saya terbangun hari ini, setelah tidur dengan semua mimpi itu.
Sekarang, saya sudah bangun. Tidak mungkin saya bermimpi lagi.

Saatnya berbenah sekarang. Mandi, sarapan, lalu berangkat…
Tapi…Rasanya malas berangkat ke tempat di alam mimpi kemarin…





100 Tahun Kebangkitan Nasional

19 05 2008

Kebangsaan: Imajinasi Masa Lalu

Oleh : BRE REDANA

Apakah sebuah gagasan – katakanlah gagasan mengenai nasionalisme – bisa berfungsi seperti sebuah ayat, yang dengan itu lalu terjadi semacam proses nubuatan, sebuah bangsa kemudian bangkit, mengepalkan tangan, satu padu bulat tekad menuju merdeka? Banyak hal membuktikan, kesadaran bangkit disebabkan hal-hal kecil, dari perubahan-perubahan yang sering tak teramati karena sifat kesehariannya, yang betapapun di baliknya sebenarnya tersimpan gerak modernisasi.

Pada mulanya, pembangunan Grote Postweg—sebuah jalan raya yang menyisir Pulau Jawa di bagian utara, dari Anyer sampai Panarukan, oleh Herman Willem Daendels, ketika yang bersangkutan menjadi Gubernur Jenderal Hindia-Belanda tahun 1808-1811. Pembangunan jalan itu adalah untuk menahan kemungkinan invasi Inggris dari laut (utara). Dengan pembangunan jalur itu—yang dirancang sebagai jalur militer—bisa disusun strategi untuk memobilisasi manusia, dari satu wilayah permukiman ke permukiman lain.

Lalu, semua berlangsung tak terduga. Bukan saja tumbuhnya jalan berarti juga tumbuhnya jalur perdagangan, tetapi peta kekuasaan bahkan sakralitas kekuasaan diacak-acaknya. Dalam konsep kekuasaan sebelumnya, infrastruktur semacam alun-alun yang dikelilingi oleh keraton, masjid, adalah simbol sebuah domain politik. Hanya saja, apa peduli ”Tuan Guntur” (begitu Daendels dijuluki karena ketegasannya dan barangkali perintahnya yang keras meledak seperti guntur di langit)?

Alun-alun, seperti di Pati dan Demak, dia terjang dengan proyek jalan rayanya. Dalam catatan Peter JM Nas dan Pratiwo (Java and De Groote Postweg, La Grande Route, The High Military Road, Leiden/Jakarta, 2001), di alun-alun yang terbelah itu lalu muncul kegiatan perdagangan, katakanlah lahirnya domain ekonomi baru, merongrong domain politik lama keraton. Kalau menurut budayawan Sardono W Kusumo, pembangunan jalan raya oleh Daendels juga mengalienasi keraton-keraton di Jawa, yang kemudian memilih jalur ke selatan saja, berhubungan dengan Laut Selatan, dengan Ratu Kidul. Bisa ditebak, apa implikasinya, kalau di belahan utara dunia bergerak dalam kegairahan perdagangan, sementara di jalur selatan raja asyik-masyuk bermasturbasi dengan Ratu Kidul, maka kekuasaan lama harus segera tutup buku. Tancep kayon.

Pada periode sejak awal 1800-an itulah disebabkan berbagai sebab benih-benih antikolonialisme menemukan bentuknya dalam perlawanan yang baru—bukan sekadar kisruh berebut kekuasaan seperti di zaman-zaman keraton lama sebelumnya. Menurut Denys Lombard (Nusa Jawa: Silang Budaya, Warisan Kerajaan-kerajaan Konsentris, Gramedia Pustaka Utama, 1996), perang yang dilancarkan oleh Pangeran Diponegoro, yang sering juga disebut sebagai ”Perang Jawa” dari 1825-1830, adalah ”batas historis antara periode ’konflik-konflik feodal’ dan ’periode modern’”. Lombard mengaksaentuasi pendapat Peter Carey, bagaimana perang tadi meletus bukan pada waktu krisis, tetapi justru pada waktu pembangunan ekonomi berjalan pesat.

”Yang terjadi bukanlah pemberontakan petani yang tercetus karena kelaparan dan kesengsaraan, tetapi pemberontakan terencana, yang dikobarkan oleh beberapa orang bangsawan dan secara sadar didukung oleh sebagian elite pedesaan,” demikian Lombard menulis.

Ihwal mengenai Diponegoro ini juga menarik perhatian pelukis tersohor, Raden Saleh Sjarif Boestaman (1807-1880), yang banyak bergaul dengan elite bangsawan maupun para intelektual Eropa. Politik representasi sudah beroperasi pada zaman itu. Pelukis Belanda, JW Pieneman, melukis peristiwa penangkapan Diponegoro, dengan menggambarkan sang pangeran berdiri dengan dua tangan terbentang seolah kehilangan akal, sementara di belakangnya, Jenderal de Kock berkacak pinggang menunjuk kereta tahanan, seolah memerintahkan penahanan Diponegoro.

Statemen berbeda diberikan oleh Raden Saleh. Dalam lukisan karyanya berjudul ”Penangkapan Diponegoro”, Sang Pangeran berdiri tegak dengan kerut wajah tegas berwibawa, tangannya memegang tasbih dengan kencang. Jenderal de Kock dilukiskan tetap menaruh hormat, selain penggambaran kepalanya yang gede (seluruh orang Belanda dalam lukisan itu kepalanya terlihat besar melebihi proporsi. Mungkin ini semacam ”penghinaan”, menggambarkan Belanda seperti para buto seberang dalam pewayangan).

Politik representasi ini bukankah merupakan gejala amat modern? Sebagaimana pelukis-pelukis dan seniman-seniman pada zaman berikutnya menyampaikan pesan politisnya di balik karya?

Awal tahun 1900-an, Hindia Belanda menyaksikan perubahan tata cara berpakaian sejumlah kalangan pribumi. Yang disebut ”new breed” atau bibit-bibit baru dari Indonesia modern nantinya mulai mengenakan pantalon dan juga topi seperti kalangan Belanda. Nantinya, peci menjadi semacam simbol identitas kebangsaan. Melalui mode, sebuah bangsa mulai mendefinisikan dirinya sendiri—bukan didefinisikan pihak lain. Seperti kata Baudelaire, modernitas jangan-jangan berasal dari mode.

Nasionalisme, diteorikan Ernest Gellner seperti dikutip oleh Benedict Anderson dalam bukunya yang terkenal, Imagined Communities (Verso, London-New York, 1983), bukanlah hal kebangkitan bangsa-bangsa pada suatu kesadaran diri, (tapi) ia menemukan (invent) bangsa-bangsa yang sebenarnya tidak eksis. Atau selanjutnya dalam tesis Anderson, sebuah bangsa, sebuah komunitas, sekecil apa pun, sebenarnya adalah soal ”terbayangkan” (imagined) karena toh pada dasarnya kita tidak pernah kenal, bertemu, atau tahu-menahu sebagian besar anggota komunitas itu, terlebih kalau diluaskan sebagai bangsa.

Jadi, memang harus ada proses imajiner yang mampu membentuk affinity sekaligus perasaan percaya—trust dalam istilah Fukuyama—bahwa kita terikat menyongsong masa depan bersama. Nyatanya, proses itu sekarang disabot para penguasa, dirongrong dari para pengutil sampai para tikus garong yang meng-korup kekayaan bangsa secara besar-besaran. Sebagian besar dari kami telah kalian miskinkan.

Grote Postweg sudah terkubur sejarahnya (dari sepanjang jalur ini di seluruh Jawa, adakah sepenggal saja yang dinamai Jalan Raya Daendels?). Bersama terkuburnya sejarah, tinggallah kebangsaan—sebagai suatu konsep imajiner—juga menjadi imajinasi: imajinasi masa lalu.

Sumber : Kompas, 19 Mei 2008





Boedi Oetomo dan Nagazumi

19 05 2008

Bagi setiap orang yang sekarang berminat mempelajari Boedi Oetomo, ia sulit meninggalkan karya Akira Nagazumi, ”The Dawn of Indonesian Nationalism”. Karya ini dapat disebut ”karya klasik” mengenai Boedi Oetomo.

Meskipun karya tersebut baru diterbitkan berupa buku oleh Institute of Development Economics, Tokyo, tahun 1972, dan merupakan penyempurnaan dari disertasi Akira Nagazumi di Universitas Cornell, Amerika Serikat, lima tahun sebelumnya (1967), pengupasannya mengenai Boedi Oetomo mulai dari lahirnya pada 20 Mei 1908 sampai sepuluh tahun usianya (1918) dapat dijadikan acuan bagi mereka yang berminat mempelajari organisasi yang penting bagi sejarah Indonesia itu.

Judul bukunya Fajar-Menyingsingnya Nasionalisme Indonesia itu sering dinilai tidak tepat sebab Boedi Oetomo belum merupakan sebuah organisasi yang memperjuangkan cita-cita kebangsaan Indonesia seperti yang pada 1945 diproklamasikan oleh Soekarno-Hatta.
Namun, Bung Hatta sendiri dalam tulisannya di majalah Star Weekly 17 Mei 1958 untuk memperingati 50 tahun Pergerakan Nasional mengatakan, apabila diukur dengan pengertian sekarang tentang apa yang disebut ”perjuangan politik dan pergerakan kebangsaan”, Boedi Oetomo memang belum memenuhi syarat untuk diberi nama ”Pergerakan Nasional”. Akan tetapi, ditinjau dari suasana masa itu, Boedi Oetomo sudah mengandung ”kecambah semangat nasional”. Organisasi itu dapat dipandang sebagai pendahulu dari pergerakan kebangsaan yang muncul pada 1912 dan 1913 dengan lahirnya Nationale Indische Partij dan Sarekat Islam.

Baik pula diingat bahwa Nagazumi sendiri ketika menulis disertasinya di Universitas Cornell pada 1967 dan menerbitkan bukunya pada 1972 sudah mengikuti perkembangan Boedi Oetomo pada masa selanjutnya, termasuk gerak kegiatan sejumlah tokoh yang semula aktif pada awal berdirinya Boedi Oetomo, seperti dokter Soetomo dan dokter Goenawan Mangoenkoesoemo.
Bahkan, dalam karyanya kemudian yang merupakan hasil penelitian lanjutan mengenai perkembangan nasionalisme Indonesia, Nagazumi berkesimpulan, kelirulah para sejarawan yang berpendapat bahwa perkembangan nasionalisme Indonesia sebagai suatu fenomena barulah mengemuka sesudah Perang Dunia I. Benih-benih perkembangannya sudah tumbuh satu dekade sebelumnya, pada masa sebelum 1914. Sudah jauhlah analisis yang dilakukan Nagazumi terhadap semua literatur yang relevan dengan masalah tersebut ketika ia meninggal pada tahun 1987 karena kanker. Ketika itu usianya baru 58 tahun.

Demikian kita baca dalam In Memoriam mengenai Akira Nagazumi yang ditulis Peter Carey, yang juga seorang sejarawan mengenai Indonesia. (Bijdragen, deel 144, 2e en 3e aflevering, 1988). Dalam Bijdragen ini juga dimuat daftar 22 karya Nagazumi, tidak saja dalam bahasa Jepang dan Inggris, tetapi juga dalam bahasa Belanda dan Indonesia.
Karya tersebut, antara lain, ”Pemberontakan Partai Komunis Indonesia dan Pengaruhnya atas Jemaah Haji”, 1926-1927. Tulisan ini terdapat dalam buku Indonesia dalam Kajian Sarjana Jepang; Perubahan Sosial-Ekonomi Abad XIX & XX dan Berbagai Aspek Nasionalisme Indonesia. Buku yang diterbitkan Yayasan Obor, Jakarta, tahun 1986 ini dieditori oleh Nagazumi sendiri.
Seperti halnya buku tersebut, buku karya Nagazumi mengenai Boedi Oetomo juga didasarkan pada penelitian atas bahan-bahan yang relevan dan lengkap, yang diperoleh antara lain di Belanda dan Indonesia. Ketika melakukan penelitian di Belanda pada 1964-1966, Nagazumi beruntung karena bersamaan dengan dideklasifikasikannya arsip-arsip resmi Kementerian Jajahan sebelum Perang Dunia II yang tersimpan di Rijksarchief (Arsip Kerajaan Belanda). Di tempat ini Nagazumi mendapatkan banyak bahan baru yang berhubungan dengan perjalanan Boedi Oetomo selama sepuluh tahun pertama (1908-1918), termasuk hanya dua dokumen yang pernah diterbitkan mengenai gerak kegiatan resmi organisasi tersebut.

Dari pengantar bukunya mengenai Boedi Oetomo itu dapat diketahui bahwa Nagazumi pun membaca tulisan Ki Hadjar Dewantara di majalah Nederlandsch-Indie Oud & Nieuw terbitan tahun ketiga, 1918-1919. Dalam majalah bulanan ini, Ki Hadjar yang masih menggunakan nama S Suryaningrat menyumbangkan tulisan mengenai peringatan genap sepuluh tahun berdirinya Boedi Oetomo (1908-1918), yang diselenggarakan di gedung teosofi di Den Haag, Belanda.

Ketika itu Suwardi Suryaningrat memang masih berada di Belanda, semenjak ia diasingkan ke negeri kincir angin tersebut setelah ia menulis karangan yang menghebohkan di koran De Expres berjudul ”Als ik eens Nederlander was” (Seandainya aku seorang Belanda) pada 1913.
Tulisan itu bertujuan mengejek Pemerintah Hindia-Belanda yang menggerakkan rakyat di wilayah jajahannya untuk ikut merayakan peringatan bebasnya Belanda dari penjajahan Perancis.. Baru pada 1919 Suwardi meninggalkan Belanda kembali ke tanah airnya dan menjadilah ia Ki Hadjar Dewantara yang mendirikan Taman Siswa.

Mengenai tulisan Suwardi di majalah Nederlansch-Indie Oud & Nieuw tersebut, Nagazumi tidak membahasnya meskipun sebenarnya menarik sekali dalam kaitannya dengan Boedi Oetomo. Suwardi yang bersama Douwes Dekker dan Tjipto Mangoenkoesoemo adalah tiga serangkai Indisce Partij menampilkan kalimat berikut pada awal tulisannya: ”Tanpa ragu kini saya berani menyatakan bahwa tanggal 20 Mei adalah Hari Indisch-nationaal (Indisch-nationale dag)”.
Ia pun mengingatkan bahwa peringatan lima tahun Boedi Oetomo yang dirayakan meriah selama lima hari di Bandung tidak hanya dihadiri oleh warga organisasi itu sendiri, tetapi juga oleh para anggota Sarekat Islam dan Indische Partij.

Peringatan 10 tahun Boedi Oetomo di Den Haag yang dilaporkan oleh Suwardi itu tidak saja dihadiri orang-orang Indonesia, tetapi juga sejumlah orang Belanda, termasuk wakil dari Menteri Koloni dan Mr JH Abendanon, yang pada 1911 menerbitkan kumpulan surat Raden Ajeng Kartini, Door Duisternis tot Licht (Habis Gelap Terbitlah Terang).
Kemeriahan peringatan disemarakkan pula dengan diterbitkannya buku kenang-kenangan yang diberi judul Soembangsih dan diserahkan kepada Goenawan Mangoenkoesoemo, salah seorang pendiri Boedi Oetomo dan adik dokter Tjipto Mangoenkoesoemo yang ketika itu melanjutkan pelajarannya di bidang kedokteran di Amsterdam. Ia juga sahabat dokter Soetomo, ketua pertama Boedi Oetomo, dan banyak membantu perjuangannya. Mengenai dokter Goenawan yang meninggal pada 1929 ini, dokter Soetomo menceritakannya panjang lebar dalam buku Kenang-kenangannya yang ditulisnya pada 1934 (halaman 93-102).

Nagazumi tidak saja berhasil menghimpun bahan-bahan mengenai Boedi Oetomo di Belanda, tetapi juga di Indonesia. Itu terjadi ketika pada 1968-1969 ia diminta mengajar di Jurusan Jepang Fakultas Sastra Universitas Indonesia. Di perpustakaan Museum Pusat (sekarang Perpustakaan Nasional), ia menjumpai antara lain majalah yang sangat penting bagi penelitiannya, tetapi yang menurut perkiraannya belum pernah dimanfaatkan oleh seorang penulis pun. Majalah yang bernama Retnodhoemilah ini diterbitkan di Yogyakarta tiga kali seminggu dengan bahasa Jawa dan bahasa Melayu. Terbit pertama kali pada 1895, dan dokter Wahidin berperan sebagai redakturnya pada 1901-1906.

Dari majalah ini, Nagazumi menyatakan dapat menyerap suasana intelektual para terdidik Jawa pada masa peralihan abad XIX-XX. Merupakan suatu surprise baginya bahwa dr Wahidin berperan sebagai redaktur majalah itu. Bukankah Wahidin dapat disebut sebagai ”pembangkit” semangat para pelajar Sekolah Dokter Jawa untuk mendirikan Boedi Oetomo? Pertanyaan ini dijawab dengan jelas oleh dr Soetomo dalam Kenang-kenangannya.

Ia ceritakan betapa ia sangat terkesan dan merasa terbangun semangatnya setelah ia menemui dokter Wahidin pada akhir 1907 di Betawi waktu itu. Ini terjadi ketika dr Wahidin baru mengaso dari perjalanannya ke beberapa daerah untuk menghimpun dana guna membiayai sekolah anak-anak muda. Tulis Soetomo: Berbicara dengan dr Wahidin dan mendengarkan mengenai tujuan kegiatannya, segera menghilangkan perasaan dan tujuan yang terbatas hanya untuk kepentingan diri sendiri saja. Orang berubah menjadi lain makhluk, merasa tergerakkan, gemetar seluruh tubuh dan tulangnya, pemandangannya menjadi luas, perasaannya menjadi halus, cita-citanya menjadi elok. Orang merasakan akan kewajibannya yang mahaluhur di dunia ini. Dr Wahidin sendiri adalah seorang pribadi yang tenang, yang bijaksana tindak langkahnya, dan penuh keyakinan dalam membentangkan cita-citanya. (Kenang-kenangan, halaman 79-81).
Tidak saja Retnodhoemilah yang ditemukan Nagazumi di perpustakaan Museum Pusat, tetapi juga koleksi unik majalah-majalah lama yang semakin memperkaya bahan-bahan untuk penelitiannya. Kunjungan sarjana Jepang itu ke Indonesia juga memberinya kemampuan untuk menghayati negeri kita dan penduduknya. Ini penting untuk menjiwai analisisnya terhadap bahan-bahan penelitiannya.
Sebagai suatu contoh apa yang dikatakan Nagazumi pada bagian akhir bukunya mengenai Boedi Oetomo berikut ini: ”Dalam dekade pertama eksistensinya, belum pernah sekali pun Boedi Oetomo mempersoalkan legitimasi pemerintahan Belanda. Tetapi hal itu tidaklah berarti bahwa para anggota Boedi Oetomo menginginkan tetap berada di bawah kekuasaan Belanda selamanya. Suatu aspek yang menarik dari Boedi Oetomo ialah rasa-perasaannya mengenai saat yang dinilai tepat (timing) untuk bertindak. Ini jelas dari kesukaan organisasi itu akan metafora mengenai hubungan antara bapak dan anak, antara guru dan murid. Boedi Oetomo sangat diresapi kesabaran untuk menunggu datangnya momentum dalam perkembangan masyarakatnya, yakni sampai tiba saatnya si bapak atau guru mengatakan: Nah, sekaranglah tiba waktunya kamu sudah siap menolong dirimu sendiri! Karena yakin bahwa saat seperti itu akhirnya akan tiba, Boedi Oetomo mampu tetap berkepala dingin dan fleksibel ketika organisasi-organisasi lain semakin tidak sabar terhadap kelambanan pelaksanaan reformasi dan tidak kunjung diakhirinya pemerintahan kolonial.”

Mengenai sikap Boedi Otomo, sebuah organisasi modern pertama masyarakat Jawa yang memperjuangkan kemajuan pendidikan dan berupaya menyuburkan budaya itu, dirumuskan singkat oleh Dwidjosewoyo sebagai berikut: ”Bertindak kalem atau tenang dan moderat adalah sifat Boedi Oetomo”.
Kata-kata yang dikemukakan seorang sesepuh Boedi Oetomo kepada seorang tokoh aliran keras Tjipto Mangoenkoesoemo itu diberi penjelasan oleh Nagazumi, bahwa sikap moderat bukanlah kemampuan yang diperoleh kaum priayi Jawa, melainkan suatu insting yang mengakar mendalam pada etos orang Jawa.

Pada bagian akhir bukunya, Nagazumi juga mengemukakan, tidak pada tempatnyalah menilai Boedi Oetomo hanya dari aspek politik, berdasarkan penglihatan tiadanya pengikut massal pada organisasi itu seperti halnya Sarekat Islam, misalnya. Tidak dapat diremehkanlah pencapaian-pencapaian lain Boedi Oetomo yang juga pantas dicatat. Ia terbebas dari prasangka keagamaan dan kebekuan tradisionalisme; para anggotanya selalu terpacu untuk mengejar perkembangan intelektual, menolak kesetiaan membuta yang emosional dan tidak terjerumus pada sikap apatis terhadap hal-hal spiritual (Nagazumi, halaman 155-156).

Boedi Oetomo mencoba aktif terjun di bidang politik menjelang dan pada awal berdirinya Volksraad atau Dewan Hindia, yang didirikan pada 1918. Kebetulan waktu itu pemerintahan Hindia-Belanda dipimpin Gubernur Jenderal Van Limburg Stirum, yang oleh DM Koch disebut Een internationaal georienteerd staatsman (seorang negarawan yang berorientasi internasional). Ia membentuk sebuah komisi untuk pembaruan ketatanegaraan (Commissie voor Staatskundige Hervormingen).
Semangat yang terkandung dalam niat Van Limburg itu dan yang dituangkan dalam usul Komisi pada 1920 berisi penegasan bahwa tujuan penyelenggaraan kehidupan ketatanegaraan di Hindia-Belanda tidak lain adalah untuk mengusahakan agar sumber-sumber alam di negeri tersebut sebanyak mungkin diusahakan dengan kekuatan dan kemampuan rakyatnya sendiri. Bersamaan dengan itu, hendak diusahakan pula agar penduduk akhirnya mampu mengurus kepentingan dan pemerintahan negerinya sendiri. Dengan demikian, Komisi bermaksud meletakkan dasar-dasar bagi een volledig zelfbestuur (pemerintahan sendiri sepenuhnya).

Namun, niat yang progresif dari Van Limburg yang dikenal dengan sebutan November Beloften atau Janji-janji November itu tidak saja ditentang penduduk Belanda di Hindia-Belanda, terutama para penguasa perkebunan, tetapi juga oleh pemerintah pusat di Belanda. Langkah-langkah yang direncanakan Van Limburg itu dinilai terlalu jauh. Bahkan, Van Limburg lantas digantikan oleh Gubernur Jenderal D Fock, seorang lawan Janji-janji November.
Maka, tidak saja kaum progresif di kalangan pergerakan yang kecewa berat, tetapi kaum moderat yang terhimpun dalam Boedi Oetomo pun semakin tidak berdaya dalam aktivitas politik yang baru dimulainya. Apalagi pemerintahan Hindia-Belanda selanjutnya tidak mengendur sikap kerasnya.
Fase ketidakberdayaan Boedi Oetomo ini berlangsung terus sampai meleburnya pada 1935 dengan Perhimpunan Bangsa Indonesia (PBI) menjadi Parindra (Partai Indonesia Raya). Sebagai Ketua Parindra, terpilihlah dokter Soetomo, yang tidak lain adalah ketua pertama Boedi Oetomo pada tahun 1908.

Penulis : P SWANTORO Wartawan Senior, Tinggal di Jakarta

Sumber : Kompas, Senin, 19 Mei 2008





Mimbar Keluarga yang Hilang

19 05 2008

”Lihat sepuluh besar American Idol, David, Carly, hingga Syesha. Baju dan tampilannya bersahaja, bahkan pembawa acaranya tidak seronok dan mewah, namun kualitas profesionalnya luar biasa. Mereka paham, siapa yang bintang, siapa pemandu, dan bagaimana menjuri secara efektif serta berkarakter.” Demikian komentar seorang guru dalam sebuah diskusi tentang televisi.
Lalu dengar yang ini, ujar seorang produser televisi: ”Rating ditanggapi secara instan, melahirkan kompetisi bisnis tidak sehat, memaksa pekerja televisi bekerja lebih banyak, lebih cepat, namun merendahkan profesionalisme. Program televisi tergelincir berlomba menarik perhatian tiap detik tanpa memerhatikan kode etik. Saya menyuruh anak saya untuk tidak menonton televisi.”
Komentar-komentar di atas hanyalah beberapa komentar dari deretan gugatan kepada televisi, khususnya berkait dengan keluarga. Jajak pendapat Kompas awal tahun 2008 menunjukkan, menonton televisi adalah kegiatan yang lebih bersifat kekeluargaan daripada individual. Tercatat hanya 4,9 persen responden yang menonton televisi tidak dengan anggota keluarga. Artinya, menonton televisi adalah sebuah perilaku komunal, di mana 47,1 persen tercatat, penguasa remote control adalah sang anak.
Di Eropa-Amerika, semua siaran televisi terencana dan terprogram, hingga mampu memilah waktu bagi anak-anak dan dewasa. Oleh karena itu, sangatlah perlu memberi catatan khusus terhadap televisi dalam perspektif ruang keluarga. Bagaimana sebagai sebuah medium, televisi dapat berperan juga meneguhkan nilai dasar untuk sebuah bangsa dalam bertindak, berpikir, mengadopsi, atau bereaksi terhadap berbagai hal di sekitarnya.

Sejarah ruang keluarga
Sejarah televisi diyakini sebagai penemuan teknologi yang mampu mengumpulkan anggota keluarga di ruang keluarga. Haruslah dicatat, industri televisi bertumbuh pasca-Perang Dunia II, ketika orang-orang tua di Amerika dan Eropa lewat televisi melihat wajah perang dunia dan menunggu anak mereka pulang dari perang.
Oleh karena itu, sejak awalnya televisi lalu menjadi mimbar dunia yang dikonsumsi oleh keluarga. Persaingan Obama dan Hillary Clinton juga memanfaatkan media televisi. Demikian juga, presiden-presiden Indonesia dikenal lewat televisi dan bukan lewat buku-buku. Juga lihat, munculnya ”kiai televisi”, yakni para pemimpin agama yang terkenal lewat televisi, bukan lewat pelayanan umat secara langsung.
Televisi menjadi buku bergambar dan bersuara terpopuler, refleksi orientasi budaya lisan, ketika budaya baca belum begitu berakar kuat.
Televisi juga menjadi bagian dari sejarah barang-barang konsumsi yang masuk ke ruang keluarga.
Catatan di atas menyimpulkan, abad ini adalah abad generasi televisi. Ketika televisi menjadi mimbar terbesar urbanisasi nilai-nilai. Sebuah kebudayaan massa yang digerakkan dengan kultur teknokapitalis, yang tiap detik programnya dibiayai untuk mendapatkan pameran perhatian dari anggota-anggota keluarga di depan televisi. Televisi sesungguhnya mimbar pameran perhatian terbesar abad ini.

Genius vs Etika
Sejak kelahirannya, televisi dipenuhi sebutan yang berbeda. Sebutlah, jendela dunia, tabung kekerasan, padang pasir kebodohan, hingga sahabat keluarga. Hal terakhir membuat televisi tidak bisa dilepaskan dari etika komunikasi, juga etika jurnalistik, etika perlindungan anak, etika perlindungan konsumen, etika periklanan, etika bercerita, hingga etika bincang-bincang.
Tetapi, tuntutan-tuntutan itu senantiasa dihadapkan dengan pertanyaan umum dalam berbagai diskusi televisi: ”Bagaimana bisa menjadi industri kreatif yang menguntungkan kalau sedikit-sedikit bicara etika?” Di sementara lain, sejarah memperlihatkan bagaimana program televisi mampu tumbuh menjadi bisnis dunia, justru karena gabungan kegeniusan industri kreatif dengan etika komunikasi. Dengan modal tersebut, program televisi pun menjadi mimbar yang dibutuhkan seluruh keluarga. Bukan sebaliknya: digelisahkan dan dihujat keluarga.
Yang harus dicatat, beberapa program popular cenderung semakin vulgar dan seronok alias kecerdasan kreatifnya menipis. Lihat, misalnya, program penuh olok-olok dengan laki-laki berpakaian wanita yang seronok.
Simak berbagai berita penuh kekerasan. Banyak yang ditampilkan jauh dari nilai jurnalisme damai, bahkan tak peduli dampaknya pada anak-anak.

Wajah paradoks
Industri kreatif televisi kini telanjur berada dalam kompetisi yang tidak sehat. Pertama, karena industri yang tumbuh karbitan dengan nilai investasi yang besar—setahun saja sebuah stasiun mengeluarkan dua-tiga ratus miliar untuk belanja program—melahirkan etos kerja ”modal cepat balik”.
Kedua, jumlah stasiun televisi berskala nasional yang belasan jumlahnya, melebihi kebutuhan masyarakat. Ketiga, jumlah sumber daya yang terampil sangatlah sedikit.
Keempat, tekanan rating ditanggapi dengan jalan pintas, yakni menjual kemasan bersifat fisik, vulgar, dangkal, kekerasan, dan materialistik. Akibatnya, kesuksesan industri televisi bukan lagi berdasar penghormatan pada profesionalisme.
Akibat lebih jauh, kemewahan televisi berbanding terbalik dengan realitas masyarakatnya.
Pada galibnya, televisi sesungguhnya menjadi cermin bagi bangsa dan wajah keluarga yang ada di dalamnya. Namun, yang ada kini adalah wajah yang paradoks. Di satu sisi ia penuh simbol religius, di sisi lain ia mewah, vulgar, materialistik, dan penuh kekerasan. Di satu sisi terbuka dan demokratis, namun di sisi lain kehilangan etika bahkan esensi demokrasi itu sendiri. Di satu sisi memiliki lompatan kemajuan yang cerdas, tetapi isinya banyak yang dangkal.
Bila paradoks dan kompetisi tidak sehat di atas terus berlanjut, televisi tampaknya akan kehilangan peran terbesarnya sebagai mimbar keluarga. Pada akhirnya, televisi pun kehilangan perannya sebagai agen pembentukan karakter bangsa, yang antara lain kosmopolit sebagaimana karakter wahana itu sendiri. Tentu hal ini tidak kita inginkan.

Penulis :
Garin Nugroho Direktur Yayasan Sains Estetika Teknologi; Sutradara; dan Pengamat Komunikasi Budaya

Sumber : Kompas, Sabtu, 17 Mei 2008





Bad Boys

17 05 2008

Teman perempuan ku baru saja menulis tentang bad boy nya, dan langsung di amini oleh teman perempuannya. Bukan kali ini aja deh kayaknya kaum perempuan punya pendapat kalau bad boy itu menarik. Yang jadi pertanyaan, perempuan yang punya pendapat seperti itu, mayoritas kaumnya atau justru malah minoritas ya? Bagaimana pendapat anda wahai kaum perempuan…?


I know you, you know me
I’m the black sheep of the family,
I’m in an’ out of trouble
I’m the talk of the town
I get wild in the street
When the sun goes down
I steal around, like a thief in the night
Dancing ’til the break of day

Bad boys,
Running undercover of moonlight
Bad, bad boys,
Getting wild in the street,
Wild in the city
I see you, you see me
Just a black street boy in society
With high-heeled women full of champagne an’ lies,
Getting wild in the street
‘Til the hot sunrise
Stealing round like a thief in the night
Dancing ’til the break of day

Bad boys,
Running undercover of moonlight
Bad, bad boys,
Getting wild in the street,
Wild in the city,
Wild in the city,
Wild in the city

Bad, bad boys,
Running undercover of moonlight
Bad, bad boys,
Getting wild in the street,
Wild in the city

I know you, you know me
I’m the black sheep of the family,
I’m in an’ out of trouble
I’m the talk of the town
I get wild in the street
When the sun goes down

I don’t care what the people think,
I can’t hear what the people say,
I steal around like a thief in the night
Dancing ’til the break of day

Bad, bad boys,
Running undercover of moonlight
Bad, bad boys,
Getting wild in the street,
Bad, bad, bad boys,
Running undercover of moonlight
Bad, bad boys,
Getting wild in the street,
Wild in the city

Undercover of moonlight…





Inonesia 0-3 Korea

16 05 2008

Selesai…
Taufik tak berdaya, kalah 2 set langsung…
Indonesia, ternyata tak bisa bangkit…

Sore tadi, di berita, banyak orang rela antri dan berebut membeli tiket final Thomas Cup. Seakan Indonesia sudah pasti ke final. Bagaimana kabar mereka sekarang? Masih maukah mereka datang ke Istora Minggu besok?

Hoooiii….Bapak-bapak sekalian…Kok melempem begini…? Padahal dulu kita…

Aaah…sudahlah…Mungkin kejayaan sudah menjadi sejarah buat kita…

Ayoo bangun, cuci muka, jangan mimpi terus…!!!
Latihan yang benar…!
Atlet ya atlet, gak usah bergaya bak selebritis…!!!





S.O.S

16 05 2008

Gawat…! Genting…! Kritis…!

Korea 2, Indonesia 0. Ganda pertama keok juga. Indonesia terancam tidak ke final…!
Kantor ini sekarang mulai sepi. Ditinggalkan sebagian besar penghuninya ke Gelora Bung Karno. Mempersiapkan sebuah perhelatan akbar. Perhelatan yang akan digelar 20 Mei nanti, 100 tahun Kebangkitan Nasional.

Masih di kompleks yang sama, di Istora, tim Thomas kita dalam ancaman.

Yang satu mempersiapkan kebangkitan, yang lain menuju keterpurukan.

Indonesia, bisakah kamu…?