Singa itu sedang bicara dengan beberapa penghuni hutan lain ketika saya datang. Sikapnya ceria seperti biasa. Penghuni hutan yang lain mulai berbicara kepada saya. Saya diam, beberapa saat. Bahkan saat mereka mulai bertanya. Saya coba membaca suasana.
Merasa akan sia-sia jika diam, akhirnya saya mulai bertanya.
“Ada masalah apa ini, kok sepertinya serius sekali?”
“Gak, saya hanya khawatir” sahut Gajah.
“Kenapa kamu khawatir, terhadap apa?”
“Saya khawatir saya akan disalahkan karena salah satu pohon kita tumbang. Padahal, sebelum ini teman kita juga ada yang membuat pohon tumbang, tapi tak pernah ada yang ditegur oleh Polisi Hutan” jelas Gajah.
“Hhhmmm….mungkin karena itulah Polisi Hutan menegur kamu” saya coba memberikan pandangan.
“Kenapa saya, kenapa yang lain tidak ditegur? Apa saya mau dijadikan kambing hitam?” Gajah bertanya lagi dengan rasa penasaran.
“Jangan berpikir seperti itu…Polisi Hutan mungkin berpikir sudah cukup banyak pohon yang tumbang karena kita. Nah, jika dibiarkan, mereka mungkin khawatir pohon yang tumbang akan semakin banyak. Makanya mereka memberikan teguran, sebagai peringatan kepada kita semua, agar kita menjaga baik-baik pohon kita di hutan ini”
Saat saya memberikan penjelasan kepada Gajah, sekilas saya melihat si Singa, menunggu apakah ia akan berbicara juga sebagai penguasa hutan. Saya terkejut. Raut wajah Singa berubah. Tidak lagi ceria seperti saat saya datang. Bibirnya tertutup rapat. Matanya mendelik menyelidik. Seolah hendak berkata, kenapa kamu bicara seperti itu ke Gajah?
Saat saya mulai berpikir apa yang salah, Tapir, penghuni hutan di desa sebelah melintas. Singa langsung memanggilnya, saya sepertinya tahu sebabnya. Singa berniat pergi dari perbincangan ini dengan cara mencari teman. Betul pikiran saya. Tapir datang, Singa berbasa basi sedikit, lalu pergi.
Saya tak tahu persis sebabnya, yang jelas Singa terlihat tak suka dengan apa yang saya katakan kepada Gajah.
Mata, cara duduk, tindak tanduk dan wajah nya selama saya berbicara jelas menunjukkan itu. Semua penghuni hutan tahu seperti apa si Singa. Wajah Singa ketika sedang marah jelas sangat berbeda ketika Singa sedang baik-baik saja. Setelah Singa pergi, saya juga pergi, toh penghuni hutan lain sudah tidak berniat bicara lebih banyak.



