Siang ini, dia mati. Awalnya saya pikir dia hanya pingsan. Saya tepuk tangannya. Saya buka matanya. Saya tunggu reaksinya. Dia tetap tak bergerak.
Saya diamkan dia rebah beberapa saat, sambil berharap keajaiban itu kembali terjadi. Bukan sekali ini saja dia hampir mati. Dia selalu kembali setelah didiamkan beberapa saat. Sebenarnya, belum terlalu tua usianya. Tapi dari awal dia sudah menjalani hidup dengan penuh cobaan. Jatuh berkali-kali, sesekali sampai terbanting. Pasokan energi nya pun seringkali tidak seperti yang seharusnya didapat.
Kembali saya hampiri dia. Saya tepuk lagi, kali ini pundaknya. Matanya masih terpejam. Tetap tak bergerak. Tak percaya, saya tepuk lagi, dengan cukup keras kali ini. Tetap saja, tak mau bergerak. Sudah saatnya mungkin. Sudah waktunya bagi dia. Sudah 5 jam berlalu sejak dia tak bergerak.
“Dia sudah mati sayang. Benar-benar mati kali ini,” saya sampaikan kabar duka ini lewat telpon kepada istri saya di sana.
“Ya sudah, mungkin memang sudah waktunya,” dengan tenangnya istri saya menjawab, “kamu beli saja yang baru…”


