Derma Berbuah Petaka

15 09 2008

Entah apa yang bisa saya ungkapkan mendengar berita hari ini. Niat baik seorang pengusaha memberi zakat kepada warga miskin di Pasuruan, Jawa Timur berubah menjadi petaka. 21 orang tewas terinjak-injak dan belasan lainnya terluka saat berebut menerima zakat. Dari layar TV terlihat betapa mereka, sebagian besar wanita, bahkan banyak manula mencoba bertahan diantara kerumunan manusia yang rela berdesakan demi beberapa puluh ribu rupiah.

Sungguh, petaka itu membukakan mata saya akan banyak hal, banyak sekali. Terutama saat saya merasa apa yang saya dapat masih jauh dari cukup. Padahal, mereka disana, harus antri berdesak-desakan untuk mendapat derma dari seseorang yang mungkin hanya cukup untuk membeli 5 kg beras kualitas bagus. Terlebih, derma itu hanya mereka dapat setahun sekali menjelang Idul Fitri. Saya yakin, mereka tidak akan mau berdesak-desakan, menahan haus puasa, berkeringat, jika mereka mempunyai cukup uang. Cukup saja. Tak perlu lebih. Paling tidak, cukup untuk membeli minyak tanah atau gas bersubsidi, beras, dan bahan kebutuhan pokok lain.

Tak guna rasanya menyalahkan niat baik pengusaha itu. Mungkin, mungkin saja, tidak akan ada petaka itu jika pengaturannya lebih rapi, lebih terencana, dengan keamanan yang baik pula. Tapi toh, setiap tahun, di banyak tempat, setiap menjelang Lebaran, selalu ada saja orang-orang yang berderma seperti itu. Toh, tak ada (belum pernah ada) petaka seperti itu di waktu lalu. Satu hal yang pasti, ini memang kehendakNya, tanpa kita tahu mengapa.

Yang kita tahu, saya, kamu, kalian dan para pemimpin, masih banyak orang yang kesulitan untuk dapat hidup layak, untuk bisa merayakan hari kemenangan nanti seperti kita, atau saya, yang selalu masih merasa kurang. Yang saya tahu, semua media di negeri ini, mulai malam ini, akan mulai memberitakan dan bertanya, siapa yang akan bertanggungjawab dan dipenjara atas petaka ini. Bisa jadi sang pengusaha yang berderma, bisa jadi juga tidak ada.

Yang pasti, sekali lagi, petaka itu sungguh membukakan mata saya, bahwa saya harus sangat bersyukur atas apa yang telah saya dapat selama ini. Bahwa saya masih harus lebih sering berderma, berbagi kepada sesama seperti mereka.

Foto dan grafis diambil dari Kompas Online





Ikan & Kolamnya

11 09 2008

Saya tak tahu pasti, apakah ikan itu yang semakin besar atau kolamnya yang mengecil.
Yang pasti, ikan itu sekarang sering menabrak tembok kolam, sampai terluka kadang.
Atau, karena khawatir menabrak ikan lain, ikan itu kadang hanya bisa berenang di tempat. Bisa jadi ikan itu takut menyebabkan ikan lain terluka, bisa juga ikan itu memang tak mau sakit atau lelah.

Berenang di kolam yang kecil untuk ikan seukuran itu memang tak mudah. Tak leluasa yang pasti.
Tak banyak tempat yang bisa dijelajahi lagi. Tak banyak tempat untuk beristirahat kala dia lelah. Tak banyak tempat untuk sekedar mengobrol dengan ikan lain sahabatnya.

Semoga, sang pemilik ikan, yang sama dengan sang pemilik kita semua, membukakan jalan agar ikan itu bisa terjun ke kolam yang baru, dengan suasana baru, teman-teman baru. Atau, kalaupun ikan itu harus menabrak lagi, paling tidak ikan itu akan menabrak dinding kolam yang lain, bukan kolam yang sama lagi, dengan luka yang sama. Begitu juga kalau nantinya ikan itu bahagia, dia bisa berbagi kebahagiaan dengan ikan-ikan lainnya. Karena, konon, semakin banyak kita berbagi kebahagiaan, berarti semakin banyak pula ikan yang diajak bahagia.





Satu-Satu

2 09 2008

Dua orang.
Di satu ruangan.
Yang satu banyak bicara.
Yang satu hanya diam saja.
Hanya sesekali menimpali, singkat saja.
Yang banyak bicara pun mulai kikuk, seakan tak tahu harus bicara apa lagi.
Yang satu, tetap diam.
Tak mau berpanjang-panjang, karena tahu akan percuma saja.
Yang satu coba bertanya.
Yang satu, tetap diam.
Akhirnya perbincangan pun selesai.
Sama saja seperti sebelumnya.
Perkataannya, pertanyaannya, dan sudah tentu jawabannya.