Sms itu mengejutkan saya. Isinya, undangan untuk menghadiri 7 harian meninggalnya teman saya, teman kampus saya. Terkejut, karena saya tak mendapat kabar saat dia pergi, karena saat terakhir bertemu, dia tampak sehat-sehat saja, kecuali belum bisa lepas dari ketergantungannya terhadap barang tertentu. Satu lagi teman yang mati. Dalam usia muda. Sebelumnya, di tahun-tahun yang lalu, sudah banyak yang pergi.
Tetangga sebelah kiri kamar kost saya dulu, lebih dulu pergi. Dahulu, di masanya, dia jawara. Hobinya, mabuk dan berkelahi. Semua anak baru pasti tahu namanya, pasti memberi jalan saat berpapasan dengannya. Akhirnya, dia kalah juga, oleh barang setan yang akhirnya memberinya penyakit kronis.
Tetangga sebelah kanan kamar kost saya, juga sudah pergi. Dahulu, saat saya baru belajar memegang kamera, dia sudah menjadi fotografer tulen, memakai kamera keluaran terbaru di zamannya. Dia juga yang selalu men’suplai’ daun lintingan untuk kami semua. Tak pernah putus. Terakhir, kabarnya dia tertangkap tangan di Bali saat mengantarkan ‘paket’. Bukan sembarang paket tentu yang mengantarkannya ke LP Cipinang. Lalu muncul berita lewat milis, dia sudah pergi. Desas desus yang beredar, dia sengaja di ‘dor’ karena tak mau mengungkap jaringannya yang besar.
Mereka, ditambah teman saya naik gunung, teman kantor yang punya jaringan di dunia hitam, dan beberapa lainnya pergi di usia yang tak jauh beda dengan usia saya saat ini. Mereka semua mati muda. Dengan berbagai cerita yang mengikutinya.



Do I know any of them?
Can we ever stop the cause of their death?
Age is just a number, what we do is what’s counted.