Pagi itu, Kopral Joni datang ke satuannya bertugas seperti biasa. Tidak telat, tapi juga tidak terlalu dini. Kesatuan tempatnya bertugas, sebut saja Batalyon Perkutut, memang sedang giat-giatnya latihan perang. Maklum, kondisi negara memang tidak stabil, banyak ancaman dari negeri-negeri tetangga yang mengancam kedaulatan.
Layaknya latihan perang, idealnya tiap prajurit dibekali sebuah senjata, entah meriam, atau senapan laras panjang. Tapi, apa mau dikata, pagi itu, Kopral Joni tak kebagian jatah senapannya. Memang sudah menjadi rahasia umum, Batalyon Perkutut memiliki keterbatasan dalam banyak hal, terutama fasilitas penunjang. Untungnya, keterbatasan ini tidak diketahui negeri tetangga (atau diam-diam mereka tahu?).
Singkat cerita, Kopral Joni berlatih perang tanpa senjata di tangan. Dia hanya bisa ikut-ikutan berlari, bersembunyi di balik semak, dan sesekali tiarap. Jika teman didekatnya sedang menembak, Kopral Joni hanya bisa menirukan suaranya, deer…deer…deer…
Aah…kasihan sekali Kopral Joni. Untung, sekali lagi untung, mereka hanya latihan perang. Apa jadinya kalau Kopral Joni berperang dengan negeri tetangga tanpa senjata di tangan? Apa bedanya dengan tindakan bunuh diri seorang mahasiswi yang frustasi dengan cara melompat dari atap gedung…?
Iih…Amit-amit jabang bayi deh…


