270309

30 03 2009

Terimakasih…Mesin itu berbunyi setelah saya menyodorkan jempol kanan. Belum sepenuhnya masuk ke news room ketika saya mendengar seseorang berbicara kepada seorang lainnya dengan suara cukup keras. Ada camera person senior gak ya…? Gw butuh buat naik heli nih…!
Saya tak bisa mendengar jawaban orang yang diajak bicara, tapi dari gesture nya dia tampak enggan meladeni pertanyaan itu, yang pasti berujung pada penugasan. Mungkin orang itu sudah terlalu letih, karena baru saja bertugas menjaga siaran pagi dari malam sebelumnya.

Tak lama, saya sudah meluncur ke Polda Metro Jaya. Yang saya tahu baru sedikit, itu pun baru pagi hari. Sebuah tanggul jebol, menyebabkan sebuah tsunami kecil di permukiman di bawahnya. Pagi itu korban tewas ‘baru’ belasan orang.

Heli milik Polda sudah siap saat saya tiba. Tak banyak basi-basi, kami naik perlahan, menuju lokasi. Saya masih berpikir ini hanya banjir biasa, yang disebabkan luapan air dari sebuah waduk yang jebol. Sampai akhirnya kami terbang cukup rendah diatasnya. Baru saya sadar, ini bencana besar. Waduk itu lebih tinggi dari permukiman di bawahnya, menyebabkan sebuah jalan yang berda di atas tanggul putus, dan air waduk sedalam 1o meter hampir kering tersedot.

Saya langsung bisa membayangkan betapa panik dan kagetnya orang-orang disana diterjang air sedemikian dahsyatnya di pagi buta. Entah bagaimana kerjanya, mata saya mulai mencari, untuk di rekam sebagai dokumentasi musibah itu. Saya mendapati sebuah bis besar yang terguling di depan kampus, sebuah mobil yang terseret sampai ke kali, rumah-rumah yang hancur, pohon-pohon yang tumbang, dan air yang sudah bercampur lumpur dimana-mana.

Hari itu, semua mata memang tertuju kesana, Situ Gintung, Ciputat, Tangerang, Banten. Semua mulut, semua mata. Semua tivi berlomba menayangkannya menit ke menit, menambahkan daftar nama korban tewas satu persatu, hingga hari ini.

*********

Sudah hampir jam sembilan malam ketika saya tiba di sebuah tempat beberapa kilometer dari lokasi bencana pagi itu. Dengan pakaian yang sama. Bedanya, yang saya lihat di depan saya malam itu sangat bertolak belakang dengan yang saya rekam pagi tadi. Kerumunan fans yang datang hanya untuk sekedar melihat idolanya, selebriti-selebriti tanah air dengan busana-busana mahalnya, kamera-kamera infotaiment, karpet merah, pejabat negara, makanan dan minuman yang berlimpah.

Malam itu sebuah pesta di gelar, di hari yang sama ketika sebuah musibah besar terjadi beberapa kilometer darisana. Entah apakah mereka bisa merasakan apa yang para korban rasakan juga.