Penanda

2 04 2009

Hari pasti terus berganti, demikian juga tanggal, dan bulan. Senin pasti akan terganti dengan Senin, demikian pula September yang diganti September yang lain. Adakah yang perlu dirayakan ketika sesuatu digantikan oleh sesuatu yang lain, yang hakikatnya adalah sama? Semua hanya berfungsi sebagai penanda, tidak lebih. Bahwa waktu terus bergulir, sesuatu yang terus tumbuh, yang kecil menjadi besar, dan yang muda menjadi tua.

Sama seperti Kamboja kuning di halaman rumah. Daun yang gugur akan segera terganti dengan daun yang lain, yang pada waktunya akan gugur juga. Bunga kuningnya merekah hanya untuk mati, terganti dengan bunga yang baru. Dan, tak ada yang pernah dirayakan oleh mereka, pohon kamboja, daun, dan bunganya. Bahkan oleh kumbang sebagai penikmatnya sekalipun.

Semua hanya penanda, bahwa kehidupan akan terus berjalan, dirayakan atau tidak.





Kosong

2 04 2009




Lebay…

1 04 2009

Saya tak tahu, kenapa tiba-tiba saya ingin menulis tentang kata ini, ‘lebay’. Mungkin karena puja-puji yang dialamatkan ke saya di rapat tadi.

Saya juga tak tahu, sejak kapan kata yang dalam bahasa aslinya sama dengan ‘lebih’ dengan awalan ‘ber’ dan akhiran ‘an’ ini jadi populer disini. Seperti bahasa gaul lain, kata ini jadi lebih cocok digunakan untuk menggambarkan sesuatu yang berlebihan, lebih dari semestinya. Lebih cocok daripada menggunakan bahasa aslinya, ‘berlebihan’, yang mungkin jadi terkesan gak keren, terlalu resmi, dan kaku.

Eniwei, apapun yang akan digunakan, ‘lebay’ atau ‘berlebihan’ artinya toh tetap sama. Jadi, biar gak dibilang ketinggalan jaman dan gak gaul, saya gunakan saja kata ‘lebay’ untuk sementara waktu, sampai musimnya lewat.

Kembali ke puja-puji yang saya anggap lebay tadi. Bukan bermaksud tidak tahu diri, atau malah di bilang lebay, tapi sungguh, saya sangat tidak nyaman mendapatkan pujian yang lebay dengan kata-kata penguatnya keluar dalam satu kalimat, seperti spektakuler, luar biasa, dan sebagainya. Tidak sepantasnya deretan kata itu muncul, karena saya merasa (entah yang lain), terlalu lebay. Ah, saya jadi ikut-ikutan lebay deh, sudah menggunakan istilah lebay kok masih di tambahi terlalu. Padahal kan lebay itu sebenarnya sudah terlalu, tanpa perlu ditambahi terlalu lagi. Sudah lah, daripada saya bertambah lebay, atau dibilang lebay, lebih baik saya sudahi saya tulisan ini. Dasar lebay…!