Hari itu datang juga. Akhirnya…
Cuti hari pertama. Malam nanti, liburan akan dimulai, dari KM 39 Cikarang, menuju Wonosobo. Liburan jarak jauh pertama kami bersama Kayana yang baru berusia delapan bulan, dengan ibunya tentu saja. Semua sudah kami siapkan, makanan kecil, minuman segar, Marlboro merah untuk saya, dan Car Seat untuk Kay.
Entah kenapa hari itu berjalan cepat sekali, tak terasa. Niat tidur siang untuk menyimpan tenaga malam harinya, gagal total. Menuju meeting point di Cikarang, saya mulai membayangkan, iring-iringan panjang melaju pelan membelah jalan, menuju tujuan.
Lima belas menit sebelum tanggal berganti, kami berangkat. Sebagai pendatang baru, saya berada di urutan paling depan, dengan nomor lambung B2, di belakang Road Captain, Om Aryo dan Grup Leader sekaligus Ketupelak, Pak Satrio. Di belakang saya menyusul Pak Helmi Burhan, Om Rudi, dan terakhir di grup Bravo, Om Dizki.
Bayangan saya tentang iring-iringan panjang yang melaju pelan langsung buyar sesaat setelah kami melaju di tol. Tak ada pemanasan, tak ada ba-bi-bu, semua rombongan langsung “ditarik”. Jelas saja, saya kaget. Pun demikian kebo saya. Maklum, selama ini kebo saya tak pernah ditunggangi dengan memecut keras-keras pantatnya. Malam itu, ‘dia’ berjuang keras menyesuaikan diri, mengikuti instruksi dari Bravo Leader yang terus menerus teriak ‘rapat! rapat!’, seperti kenek Metromini yang sedang mengejar setoran. Malam itu, ‘dia’ menerima beberapa, puluhan mungkin, pecutan di pantatnya, untuk melaju kencang mengikuti Leadernya.
Sudah lewat jam makan siang ketika kami memasuki kota Purwokerto. Dua mangkuk Sroto yang lezat (atau karena lapar?) habis saya santap. Tapi Kay mulai tak betah, mungkin karena mulai letih dan tak bisa bergerak leluasa di dalam mobil. Saya pun mulai tak tenang, karena Kay mulai mengeluarkan semua yang dia makan. Pasti masuk angin, pikir kami.
Kay langsung tertidur lelap setelah mandi air hangat dan makan sore di hotel. Sementara, kami segera menuju warung mie ongklok dekat hotel.

Luar biasa segarnya pagi hari di Wonosobo. Apalagi setelah menyantap bubur ayam dan omelette. Kay pun sudah terlihat segar dan ceria kembali. Kami siap meneruskan perjalanan. Tujuan pertama, teater Dieng. Setelah itu, makan siang dan istirahat di Tambi, areal perkebunan teh kalau saya tak salah. Sungguh makan siang yang nikmat.
Yang paling mendebarkan selama touring berlangsung tentu saja menjalani rute Kampung Kopi Banaran-Semarang. Bagaimana tidak…? Kali ini iring-iringan benar-benar harus rapat. Sekedar rapat saja tentu tidak cukup untuk meliuk-liuk ditengah kemacetan dengan kawalan PATWAL, mengingat banyaknya motor yang dengan santainya bisa memotong di sela rombongan. Hebatnya, rombongan berhasil masuk Hotel Santika setelah mengelilingi kota Semarang tanpa terputus, padahal jarak tempuhnya cukup jauh. BRAVO BIC…!


