Pengecut yang tegas

25 03 2010

“Gua gak suka…!”

Satu kalimat pendek itu membuatku terkejut. Bukan karena isinya, tapi karena bagaimana dia menyampaikan nya. Jelas, dia menunduk hanya untuk memberi kesan agar terlihat sibuk membaca kertas di mejanya saat menyampaikan itu. Bukan melihat langsung kehadapanku. Sungguh suatu statement yang membingungkan. Sebuah statement tegas yang disampaikan dengan cara yang tidak tegas, kalau tidak mau dibilang pengecut. Akan lebih menyenangkan dan terlihat jantan seandainya dia menyatakan dengan cara yang seharusnya. Bukan malah menunduk.

Soal dia tidak suka, aku memang sudah tahu sejak lama. Sebabnya pun jelas, karena aku mungkin orang yang secara terang-terangan menyatakan ketidaksukaanku terhadap caranya membuat sesuatu seolah-olah dunia ada ditangannya. Dan, jika ada yang tidak memperlakukan dunia seperti caranya, maka dia yakin dunia akan segera kiamat, runtuh, hancur. Maka, akan dipaksanya mereka-mereka itu untuk memperlakukan dunia sama seperti cara dia, karena dengan begitu, dia yakin dunia akan aman tentram sentosa, dan semua yang hidup disana akan tumbuh subur. Tak ada tapi.

Sebuah keyakinan yang absolut. Keyakinan yang sama sekali tidak bisa diganggu gugat. Seperti keyakinan umat beragama terhadap Tuhannya. Mereka yang menentang keyakinan akan adanya Tuhan, pastilah orang-orang yang tidak beragama.

Begitu juga dia. Semua yang tidak sepaham dengan keyakinannya, berarti bukan orang-orangnya. Dan, mereka tidak layak disukai. Seperti aku, yang akhirnya mendapat jawaban langsung darinya sore ini, bahwa dia tidak suka. Karena, aku tak pernah bisa mengikuti keyakinannya yang absolut.





Bohong

23 03 2010

Namanya indah, tapi bukan “Indah.” Maksud ku, perempuan itu. Cantik, dan menyenangkan. Tatapannya tajam, sangat tajam. Dari tatapannya itulah ketertarikanku bermula.

Awalnya menyenangkan, karena dia memang bisa begitu menyenangkan, dengan caranya sendiri. Tapi, ada satu hal yang sangat melekat padanya, sebuah ketiba-tibaan. Tiba-tiba saja dia menghilang. Lalu kemudian dia kembali, tiba-tiba pula.

Dia, dan banyak mahkluk lain, baik perempuan atau lelaki, adalah contoh sempurna akan ketidakkonsistenan. Inkonsistensi yang identik dengan kebohongan, apapun kobohongannya.

Banyak dari kita yang memang suka berbohong tanpa sadar. Karena sebenarnya, kebohongan yang diciptakan adalah kebohongan tentang dirinya sendiri. Mengingkari apa yang menjadi keinginannya, menyangkal apa yang pernah dikatakannya, atau memang kebohongan yang benar-benar diciptakan, entah dengan maksud apa. Mungkin kebohongan itu tidak bermaksud menciderai siapapun, atau apapun, tapi tetap, itu adalah sebuah kebohongan. Kebohongan yang secara tidak sadar dinikmati nya.

Untuk orang-orang seperti itu, memang nyaris sudah tidak ada lagi yang bisa dipegang, sebuah kata sekalipun. Karena jelas, dia akan menikmati hari-harinya dengan kebohongan yang diciptakan. Kemarin, sekarang, dan mungkin sampai ajalnya. Ternyata, memang ada orang yang menikmati hidup dalam dunia kebohongan yang diciptakan sendiri, salah satunya adalah dia.





Berebut Mayat

11 03 2010

Sudah sangat gelap saat kami tiba di sebuah desa di sebuah wilayah di Lampung Timur. Kira-kira 7 tahun yang lalu. Lalu terlihat lah kode itu. Kode yang berarti kami diperbolehkan turun dari mobil yang sudah terparkir. Lengkap dengan senjata kami, kamera besar seberat kurang lebih 7 sampai 10 kilogram. Kemudian, kami berjalan dengan cepat, tanpa suara, tanpa penerangan kecuali sinar bulan, menyusuri jalan kampung yang becek tersiram hujan siang tadi. Saya hanya bisa melihat langkah kaki seseorang diantara mereka yang berjalan persis di depan saya, sebagai panduan saya untuk melangkah. Langkahnya cepat, tergesa. Sungguh, itu merupakan penyiksaan yang panjang. Saya tak terlatih untuk itu, berjalan cepat di kegelapan dengan membawa beban berat. Tak ada kesempatan bicara sama sekali untuk meminta rehat sejenak. Semua bungkam, semua tergesa. Entah berapa lama kami berjalan waktu itu. Sampai akhirnya semua orang yang berada di depan kami merunduk, memperlambat langkah kaki mereka, membuat suara gesekan kaki-kaki dengan rumput dan ilalang tiba-tiba hilang. Sunyi. Saya hanya bisa mencari apa yang bisa saya lihat, sebuah rumah gubuk yang menyendiri, juga gelap.

Dengan mengendap-endap, mereka menuju ke rumah itu, masih tanpa suara. Tanpa aba-aba, saya mengikuti. Semua orang menggenggam sesuatu di tangannya. Entah bagaimana, tiba-tiba semua orang dengan pistol di tangan sudah berada di dalam rumah. Berteriak kesana kemari. Sesaat setelah tak terdengar letusan, saya langsung masuk, dengan kamera di pundak, mencari gambar apa saja yang ada disana, mencari apakah ada bahaya yang mengancam, mencari apa yang mereka cari. Tapi hanya ada seorang bapak tua yang dengan tenangnya terduduk di kasur tanpa dipan. Bukan ekspresi ketakutan yang dipancarkan, hanya ekspresi kebingungan. Dengan menghardik, salah seorang dari mereka bertanya kepada si bapak, menanyakan keberadaan orang yang mereka cari. Dengan polosnya, si bapak mennyebut sebuah tempat, entah dimana. Sekejap, bapak itu sudah berada di luar rumah, kembali menyusuri malam di jalan yang becek bersama kami, masih dengan langkah kaki yang tergesa setengah berlari.

Akhirnya, saya pun melihat rumah yang jadi tujuan kami selanjutnya, cukup jelas. Karena, seperti rumah pertama, rumah itu pun berdiri sendiri, di gelapnya malam. Adegan itu pun berulang, beberapa orang menyerbu masuk sambil berteriak, dengan mengacungkan senjata api masing-masing. Satu dua letusan sempat terdengar. Dengan cepat mereka menyebar ke penjuru rumah, yang ternyata memiliki dua lantai, walaupun hanya gubuk. Tak sampai semenit, seorang dari mereka turun bersama seorang lelaki dewasa dan perempuan belia, tanpa busana. Rupanya, mereka sedang asyik bercinta saat kami tergesa-gesa masuk ke rumahnya. Tanpa perlawanan, mereka pun di bekuk.

Penggerebekan yang lain di mulai saat tengah malam di daerah yang terkenal dengan ilmu debusnya. Menyusuri desa satu ke desa yang lain, berlari dalam senyap di gang-gang sempit, lalu mendobrak masuk. Membuat bangun seisi rumah. Kebanyakan tanpa hasil, walaupun ‘segala cara’ sudah dilakukan untuk mendapatkan keterangan dimana orang yang mereka cari. Sampai mereka, para ‘pemburu’ itu terlihat lelah, setelah ber jam-jam berburu tanpa hasil. Lalu datanglah info itu, entah darimana asalnya. “Terakhir, sebelum kita pulang,” ucap sang pemimpin. Saya sendiri juga sudah sangat lelah ketika kami tiba di sebuah perkampungan yang cukup padat, tapi masih terlelap. Mendekati saat shalat subuh waktu itu. Seorang ibu yang sedang mengaji terdengar jelas dari luar rumah. Tapi, suara mengaji itu berhenti tiba-tiba saat pintu rumahnya diketuk. “Polisi…! Buka pintu…!” Lalu sunyi. Tak sampai hitungan detik, pintu rumah didobrak paksa. Persis dibelakang pendobrak, saya siap dengan kamera, ikut masuk ke dalam rumah. Dari bagian belakang, terdengar langkah kaki tergesa, menyebabkan suara gaduh karena dia menabrak sesuatu, diikuti suara ibu yang berteriak memanggil nama anaknya dengan ketakutan. Sebuah letusan terdengar, diikuti eternit rumah yang jatuh berhamburan jatuh menimpa saya dan kamera. Akhirnya penangkapan itu membuahkan hasil, diiringi kumandang adzan subuh dan tangisan seorang ibu yang ibadah mengajinya terhenti karena kami.

Belum lama ini, saya mendengar kembali gegap gempita ‘keberhasilan’ polisi menangkap (atau membunuh?) orang-orang yang diyakini sebagai target buruannya. Untuk yang ini, saya tak bisa bercerita banyak, karena saya hanya melihat dari layar kaca, bukan dengan mata kepala sendiri. Yang saya tahu, 3 orang mati di pihak ‘lawan’ dan tak ada satu pun yang terluka di pihak ‘kawan’. Yang saya tahu, menurut apa yang saya ‘dengar’, mereka melawan saat hendak ditangkap. Terlebih lagi mereka berbahaya katanya. Yang saya tahu, sampai saat ini kontroversi mengenai penangkapan (atau pembunuhan?) orang-orang itu masih terus bergulir dan menjadi pertanyaan masyarakat. Yang saya tahu, semua media berlomba untuk mendapatkan gambar “mayat-mayat itu”, tak perduli apakah mayat itu masih tergeletak di jalan atau sudah terbungkus kantung mayat. Yang saya tahu, semua kru yang ditugaskan di lapangan saat itu, harus mendapatkan gambar “sang mayat”, entah bagaimana caranya. Kalau perlu, dengan cara “berbisnis” dengan pihak-pihak tertentu. Sungguh, saya tak mengerti, untuk apa mereka, termasuk kami, berebut gambar mayat itu. Mayat yang tidak kita ketahui dengan pasti bagaimana ceritanya mereka akhirnya menjadi mayat. Tak bisakah mereka ditangkap hidup-hidup…? Atau mungkin, ‘mereka’ berpikir orang-orang itu memang pantas untuk dijadikan mayat…?

Foto : Detik.com





9 03 2010

Maaf kan aku Tuhan…
Aku berdosa…

Aku terlalu silau dan khilaf…

Maaf…Kepada kalian semua…

Jika ada yang bisa kulakukan untuk menebusnya, katakan saja. Asal jangan yang ‘itu’. Sungguh, saya tidak sanggup.








Follow

Get every new post delivered to your Inbox.