Namanya indah, tapi bukan “Indah.” Maksud ku, perempuan itu. Cantik, dan menyenangkan. Tatapannya tajam, sangat tajam. Dari tatapannya itulah ketertarikanku bermula.
Awalnya menyenangkan, karena dia memang bisa begitu menyenangkan, dengan caranya sendiri. Tapi, ada satu hal yang sangat melekat padanya, sebuah ketiba-tibaan. Tiba-tiba saja dia menghilang. Lalu kemudian dia kembali, tiba-tiba pula.
Dia, dan banyak mahkluk lain, baik perempuan atau lelaki, adalah contoh sempurna akan ketidakkonsistenan. Inkonsistensi yang identik dengan kebohongan, apapun kobohongannya.
Banyak dari kita yang memang suka berbohong tanpa sadar. Karena sebenarnya, kebohongan yang diciptakan adalah kebohongan tentang dirinya sendiri. Mengingkari apa yang menjadi keinginannya, menyangkal apa yang pernah dikatakannya, atau memang kebohongan yang benar-benar diciptakan, entah dengan maksud apa. Mungkin kebohongan itu tidak bermaksud menciderai siapapun, atau apapun, tapi tetap, itu adalah sebuah kebohongan. Kebohongan yang secara tidak sadar dinikmati nya.
Untuk orang-orang seperti itu, memang nyaris sudah tidak ada lagi yang bisa dipegang, sebuah kata sekalipun. Karena jelas, dia akan menikmati hari-harinya dengan kebohongan yang diciptakan. Kemarin, sekarang, dan mungkin sampai ajalnya. Ternyata, memang ada orang yang menikmati hidup dalam dunia kebohongan yang diciptakan sendiri, salah satunya adalah dia.


