Cahyo Wibowo. Jakarta, 3 April 1977. Anak kedua dari empat bersaudara, anak laki satu-satunya.

Waktu SD selalu mendapat rangking, walaupun sudah bandel.
Di SMP sudah gak pernah dapat rangking, masuk 20 besar aja gak…Mulai kelas 2 SMP jadi langganan dipanggil guru BP, berikut surat panggilan untuk orangtua…
SMA sudah gak karuan deh…Kelas 1 semester 1 dapat rangking 3 dari buncit. Membuat almarhum bapakku marah besar, sampai mengancam untuk sekolah di Jawa. Daripada bikin malu orangtua kalo anaknya sampai gak naik kelas, katanya begitu. Alhamdullilah akhirnya saya gak pernah bikin malu orangtua karena gak naik kelas. Di SMA juga saya jadi langganan di pajang di depan lapangan upacara tiap senin pagi. Ada saja sebabnya, gak pakai topi, keliatan ngobrol, ngisengin temen, cengangas cengenges, ada saja lah alasan para guru-guru itu untuk menarik saya keluar barisan untuk dipajang di depan lapangan di samping podium…
Lulus SMA sebenarnya saya diterima di Universitas Indonesia alias UI, cuma waktu pendaftaran UMPTN saya memilih jurusan sastra Jawa, hehehe…
Dulu saya punya keinginan kuliah di IKJ, tapi almarhum bapakku melarang. Anak laki satu-satunya masa gak bisa jadi sarjana (IKJ dulu belum ada program S1), alasannya begitu. Akhirnya saya kuliah di IISIP, katanya sih singkatan dari Institut Ilmu Santet dan Ilmu Pelet. Dahulu namanya Sekolah Tinggi Publisistik (STP). Waktu pertama saya kesana beli formulir pendaftaran, tekad saya sudah bulat untuk kuliah disana. Bukan karena kurikulum atau prestasi kampus itu yang membulatkan tekad saya, tapi suasana kampus itu yang bikin saya senang. Banyak pohon besar, banyak yang memakai sandal jepit saat kuliah, banyak yang berambut panjang, dan yang paling asyik gak ada yang namanya OSPEK semi militer yang mengharuskan semua mahasiswa barunya berpotongan rambut cepak ala tentara. Sekarang di sana sudah tidak ada lagi pohon-pohon besar, sudah disulap menjadi gedung tinggi seperti kampus lainnya. Mungkin karena tidak ingin dibilang ketinggalan jaman. Mungkin juga untuk menjual fasilitas kepada calon mahasiswa baru.
Sekarang saya bekerja di Trans 7 sebagai cameraperson, setelah dimutasi dari Trans TV.
Sempat ditawari jadi PNS waktu menjadi tenaga honorer di salah satu departemen, tapi gak betah dengan lingkungan kerjanya. Sempat juga bekerja di kantoran dengan busana seperti orang kantoran, lengkap dengan dasi dan kemeja lengan panjang. Awalnya sih senang aja, tapi lama-lama gak betah juga. Mau berangkat kerja mesti menyocokkan dasi dengan kemeja, harus menyemir sepatu, mesti potong rambut tiap bulan, mesti ini, mesti itu…
Ehh…gak taunya di tempat kerja yang sekarang saya mesti menjalani semua kerepotan itu lagi. Mesti pakai seragam, mesti pakai celana hitam, mesti pakai sepatu hitam, untungnya belum ada peraturan rambut tidak boleh sampai menyentuh kerah kemeja…
Desember 2007, saya menikah dengan seorang gadis Solo, Dian Sukmawati.
Tak lama kemudian, istri saya mengandung, dan akhirnya menghadirkan seorang putri bernama Kayana Labiba Maheswari pada Oktober 2008.


Kalo mau liat yang lain, sila ke :
- trekearth
- treknature
- FN
- Multiply


